Download Film, MP3, Sofware, Ebook, Gratis, Cerita Lucu,/h1>

SELAMAT DATANG DI BLOG SEDERHANA INI. BLOG INI TEMPAT CURHAT YANG KREATIF, IMAJINATIF, SEKALIGUS INOVATIF. FUNGSINYA BISA MACAM-MACAM. TERUTAMA SEKALI ADALAH SEBAGAI MEDIA UNTUK BELAJAR. BELAJAR MENULIS, BELAJAR UNTUK PEKA. PEKA PADA DIRI DAN SEKITAR KITA. PUNYA KRITIK DAN SARAN, SILAKAN KIRIM VIA EMAIL KE: banggaheriyanto@gmail.com

Friday, 20 June 2014

Urban Street Food...

Lama tanpa kabar, mantan vokalis grup band "Dr. PM", Erwin Heryadi Djiwapradja, atau yang sekarang akrab dipanggil Erwin Mad Moron, hadir lagi di jagad hiburan Indonesia. Namun kali ini Erwin eksis bukan di dunia musik, tapi di dunia kuliner.

Dunia kuliner? Yup. Vokalis yang aksi panggungnya eksentrik itu sekarang jadi host di acara bertajuk "Urban Street Food", tayang di program MNC Food and Travel, channel 98 TV berbayar Indovision. Meski belok 180 derajat (dari musik ke makanan), tetap saja ke-eksentrik-an seorang Erwin (yang mengaku berjiwa rock and roll), selalu tampil dominan. Dan itulah sebenarnya yang -menurut saya- membuat acara culinary guides semacam Urban Street Food (USF) itu jadi tidak membosankan.

Dalam acara itu, Erwin selalu tampil santai, enerjik, lucu, dan spontan. Inilah contoh "keaslian" Erwin Moron yang membuat sosoknya jadi tampak cool sekaligus riang, yang mampu secara cepat nempel di benak siapapun yang jadi lawan komunikasinya, termasuk pemirsa acara Urban Street Food dan nara sumber (pemilik/pengelola resto). Terlebih lagi, dalam acara itu ada tiga tagline yang selalu disebutkan Erwin dengan gayanya yang khas, setengah bernyanyi dan sedikit berjoget: "This is recommended to you.. u.. u..", "Sikat guys", dan "Selamat makan Indonesia".

Contohnya, lihatlah komentar sebuah akun Twitter @BasoTLGSumsum: "Ma kasih @UStreetFood_MNC, setelah tayangan USF kemarin, byk banget pemirsa Dari luar Bogor nekat ke kios bust nyobain".

Sayangnya, aksi "genuine" Erwin itu masih masih seperti kado yang terbungkus rapi. Ia cuma dinikmati oleh pemirsa TV berbayar yang jumlahnya sekitar 8% dari 40 juta rumah tangga yang memiliki televisi. Meski begitu, MNCSky selaku induk dari Indovision mengklaim menguasai 70% pelanggan TV berbayar di Indonesia yang jumlahnya sekitar 3 jutaan rumah tangga itu. Jadi, di kalangan pemirsa TV berbayar, boleh jadi acara ini cukup populer. Tetapi di kalangan pemirsa TV Indonesia umumnya, acara sebagus itu kalah populer oleh acara-acara komedi slapstick "maksa" semisal YKS (Trans TV) dan Pesbuker (ANTV) yang banyak menuai kontra.

Acara Urban Street Food sedikit mengingatkan saya pada acara serupa yang tayang di National Geographic Channel dan NatGeo People bertajuk "Street Food Around The World" yang dipandu oleh Ishai Golan. Untuk acara yang menampilkan komunikasi langsung dengan orang-orang kebanyakan (ordinary people), dibutuhkan host yang cakap, baik fisik maupun attitude-nya. Dua hal ini, saya lihat, ada di sosok Ishai dan Erwin. Lawan bicara mereka selalu tampak senang ketika diajak ngobrol. Komunikasi pun terlihat lancar. Maka terciptalah tayangan yang alami dan meninggalkan kesan yang menyenangkan di benak pemirsanya. Bukan kesan yang aneh-aneh sehingga pemirsa ketika selesai menonton bergumam kecil, "Ini kok acara maksa banget ya".

Coba misalkan Urban Street Food hadir di TV gratisan, inilah alternatif tayangan yang cukup menghibur, ketimbang melulu kita dicekoki berita "memihak" terkait musim pilpres 9 Juli mendatang. Apapun itu, yuk belajar dari sebutan Erwin di acara Urban Street Food: Rocker, Foodlover, Biker, bahwa hidup itu harus dijalani jangan terlalu serius; yang sedang-sedang saja. Amin brother. (BHR)

Thursday, 29 May 2014

Bravo, Metro!

Acara talkshow "Mata Najwa" Rabu (28/5) malam itu di Metro TV sungguh menunjukkan kelasnya. Kesan keberpihakan Metro TV terhadap salah satu pasangan capres-cawapres, seperti banyak dikeluhkan sebagian pihak, seketika luntur karena untuk masing-masing kubu disediakan waktu dan tempat yang sama secara proporsional. Prinsip dasar jurnalistik, cover both side, coba dipegang teguh oleh si host jelita, Najwa Sihab.

Tidak hanya keberimbangan, Najwa juga tampak tajam dan cerdas ketika mengajukan pertanyaan. Bahkan untuk pertanyaan sensitif, yang kadang membuat nara sumber terlihat sekilas menarik nafas sesaat sebelum menjawab. Eloknya lagi, nara sumber tak terlihat tidak senang ketika ditanya, pun ketika mereka menjawab. Semuanya senang. Tontonan itu jelas memiliki nilai strategis di mata tokoh-tokoh penting, sebut misalnya Anies Baswedan dan Mahfud MD yang malam itu menjadi nara sumber pembuka, karena mereka percaya keterangan yang diberikan takkan sia-sia.

Satu lagi, melalui tayangan itu, isu-isu hangat yang selama ini hanya menjadi rumor, terkonfirmasi langsung oleh yang bersangkutan. Contohnya, pada tayangan malam itu, Mahfud MD menjelaskan kronologi kenapa beliau "menyeberang" ke poros Prabowo-Hatta yang tidak didukung PKB, partai yang semula menggadang-gadangnya sebagai cawapres; dan Anies Baswedan yang secara rinci menerangkan alasan dirinya lebih memilih duet Jokowi-JK.

Namun tetap saja, sebagai media, Metro TV memiliki kekuatan untuk menerapkan salah satu teori dasar komunikasi massa, yaitu Agenda Setting, di mana ia dapat leluasa menentukan kemana arah pesan yang hendak disampaikan.

Misalnya, terlihat pada pemilihan nara sumber di segmen akhir, yaitu Adian Yunus Yusak Napitupulu, caleg terpilih dari PDIP dapil Jabar I, dan Ahmad Yani politisi PPP yang tahun ini gagal ke Senayan.

Kedua nara sumber itu, buat saya tidak apple to apple saat membela "jagoannya" masing-masing. Misalnya, ketika Adian "menyerang" Prabowo, Yani tak tampak antusias memotong atau menyela serangan itu. Yani lebih banyak diam, dan hanya menimpali ketika ia dipersilakan Najwa. Ini bisa jadi karena Yani bukan kader Gerindra, maka ia hanya setengah hati membela sosok Prabowo. Debat akan berbeda bila Metro TV juga menampilkan kader Gerindra guna menghadapi Adian yang merupakan kader PDIP militan.

Meski begitu, tetaplah tayangan "Mata Najwa" malam itu sungguh menghibur (to entertaint), sekaligus mendidik (to educate) dan mempengaruhi (to influence). Menonton tayangan itu, saya seperti balik ke kampus. Terlebih ketika Anies Baswedan, sang Rektor Universitas Paramadina, rektor termuda Indonesia, peraih penghargaan 100 Tokoh Inteletual Muda Dunia dari Majalah Foreign Policy, anugerah Young Global Leader dari The World Economic Forum, dan Yashuhiro Nakasone Award, berujar, "Lawan diskusi adalah teman berpikir". (BHY)

Monday, 26 May 2014

Siaran TV Berbayar dan Eksklusivitas Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) ibarat sebuah anak kunci yang membuka pintu pemahaman manusia terhadap banyak hal dalam kehidupan. Dari generasi ke generasi pengetahuan disampaikan melalui berbagai macam media.

Salah satu media itu di era ini adalah melalui siaran TV berbayar. Jika TV gratisan menyediakan siaran banyak hal yang juga dapat menambah pengetahuan, maka TV berbayar menyediakan informasi yang membuat pengetahuan kita sedikit lebih eksklusif.

Lantas, apa manfaat pengetahuan eksklusif itu? Apakah dapat membuat kita lebih pintar dari orang lain yang tidak memiliki akses TV berbayar? Atau sebaliknya, membuat rasa ingin tahu (curiosity) kita perlahan menjadi tumpul karena semua informasi telah tersedia?

Dalam dunia bisnis, eksklusivitas artinya peluang usaha. Sementara dalam ilmu komunikasi massa, eksklusivitas bermakna kesempatan untuk menerapkan teori Agenda Setting yang diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw pada 1972. Jika pengertian dari dua dunia itu digabungkan, maka berlakulah idiom "siapa menguasai informasi, ia akan menggenggam dunia".

Bagaimana dengan pemirsa (viewers) TV berbayar? Apakah juga berlaku asumsi di atas? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung si pemirsa sendiri. Apakah ia memilih tetap menjadi pemirsa saja, atau ia akan aktif, dalam arti memanfaatkan pengetahuan eksklusivitas pengetahuan yang ia miliki menjadi bentuk yang berbeda guna menghasilkan profit-profit tertentu?

Berdasarkan data BPS, dari 240 juta penduduk Indonesia, ada 40 juta rumah tangga yang memiliki televisi. Dari angka 40 juta itu, sampai April 2014 hanya 8 persen (3 juta) yang berlangganan pay TV. Angka yang masih minim, tetapi juga berarti potensi pasar yang besar. Artinya, eksklusivitas merupakan kata kunci yang penting di industri siaran TV berbayar kita, juga industri media pada umumnya. (BHY)