Download Film, MP3, Sofware, Ebook, Gratis, Cerita Lucu,/h1>

SELAMAT DATANG DI BLOG SEDERHANA INI. BLOG INI TEMPAT CURHAT YANG KREATIF, IMAJINATIF, SEKALIGUS INOVATIF. FUNGSINYA BISA MACAM-MACAM. TERUTAMA SEKALI ADALAH SEBAGAI MEDIA UNTUK BELAJAR. BELAJAR MENULIS, BELAJAR UNTUK PEKA. PEKA PADA DIRI DAN SEKITAR KITA. PUNYA KRITIK DAN SARAN, SILAKAN KIRIM VIA EMAIL KE: banggaheriyanto@gmail.com

Sunday, 24 July 2011

Tiga Tingkatan Puasa

Hifzhul Jawarih (Menjaga Anggota Badan)


Ketika shaum kita diwajibkan untuk menjaga anggota badan dari maksiat dan dosa. Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dosa dan dia melakukannya, maka Allah SWT tidak membutuhkan dia unutk meninggalkan makan dan minum”. (Bukhari) Imam al-hafidz ibnu Hajar mengatakan bahwa shaum tidak akan diterima jika dibarengi dengan perkataan dan tindakan dosa.

Oleh karena itu saat berpuasa hendaknya kita menjaga tubuh dari kemaksiatan, mengkondisikan diri dan akal untuk tidak berfikir kecuali taat kepada Allah SWT, tidak membawa hati kecuali pada kebaikan kaum muslimin dan muslimat, dan mengkondisikan kedua mata atau kedua telinga atau lisan dengan apa yang dicintai. Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah SWT benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Al-Ankabut: 69)

Puasa di bulan Ramadan adalah merupakan ajang untuk takhalli (membersihkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat), tahalli (menghiasi diri dengan perbuatan baik dan terpuji), dan tajalli (mengagungkan Allah SWT dalam berbagai kesempatan dan tempat).

Dan bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan (maghfirah) dan jaminan seorang hamba terlepas dari siksa neraka, bahkan dilengkapi pula pada sepuluh akhir Ramadan dengan Lailatul-Qadar, yaitu malam yang lebih istimewa dari seribu bulan.

Sebagaimana puasa yang bermakna imsak (menahan diri) tidak sekadar menahan rasa lapar dan dahaga saja, namun juga harus menahan al-jawarih wal bathin (perilaku raga dan hati) dari hal-hal yang dapat mengurangi, mengotori dan bahkan menghilangkan pahala puasa. Baik dari ucapan, pendengaran, penglihatan, kedipan mata, gerakan tangan, langkah kaki hingga pada perasaan hati. Karena itulah untuk
mencapai maqam puasa yang benar-benar sempurna sangatlah sulit, harus memenuhi berbagai langkah dan tingkatan, sehingga wajar kalau puasa merupakan ibadah yang paling berat yang tidak dapat ditunaikan kecuali bagi siapa yang memiliki derajat salik ilal huda (pejalan menuju hidayah). Dan karena itulah tingkatan puasa menurut shahib Ihya Ulumuddin, syeikh imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa terdiri pada tiga tingkatan:

1.    Puasa umum (shaumul ‘umuum)
Yaitu puasa yang dilakukan dengan cara menahan makan, minum dan sanggama dari mulai imsak sampai dengan waktu berbuka (magrib). Ini sudah banyak dijelaskan di beberapa kitab hukum puasa. Kebanyakan orang awam, mereka melaksanakan puasa hanya sekedar menahan makan, minum dan sanggama di siang hari, tanpa menggali lebih dalam lagi tentang makna puasa itu sendiri. Sehingga banyak orang yang terjebak dalam pelaksanaannya, karena mereka hanya berkutat di sekitar lahiriah saja. Andai pun mereka mampu menahan dan menekan keinginan syahwat nafsu binatangnya, tetap saja masih di sekitar wilayah jasmani, seperti menahan lapar, dahaga, dan sanggama belaka. Padahal perjuangan tersebut belum mencapai tingkatan puasa yang sesungguhnya.

Nabi SAW bersabda: “Banyak orang yang melaksanakan puasa, tetapi tidak ada yang diperoleh dari puasanya, kecuali sekedar lapar dan dahaga belaka”.  (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)

2.    Puasa khusus atau istimewa (shaumul khushush)
Yaitu puasa bagi para shalihin dan muttaqin. Mereka melaksanakan puasa tidak sekadar menahan lapar, dahaga dan sanggama di siang hari saja, namun disamping itu berusaha meningkatkan puasanya hingga pada kualitas batiniahnya. Mereka dalam puasanya, menahan keinginan syahwat nafsu syaitan, yang merupakan sifatmadzmumah (buruk) pada dirinya. Sifat tersebut terwakili pada nafsus aw wal at (syaitan) yang bercokol pada setiap jiwa manusia. Nafsu SAWwalat mempunyai beberapa sifat buruk seperti riya, hasad, takabur, ujub, ghibah, namimah, ghadhab, hubbul mal, hubbul jah dan hubbud dunya.

Sifat-sifat tersebut yang harus dikendalikan, agar tidak liar menguasai diri seseorang yang sedang puasa. Jika seseorang telah mampu menguasai dan mengendalikan sifat-sifat yang buruk tersebut, maka secara otomatis semua anggota tubuh yang lahir seperti tangan, kaki, mata, telinga, mulut dan lainnya akan terkendali pula. Dengan kata lain, seluruh anggota tubuhnya ikut berpuasa, karena telah dikendalikan dari dalam diri, yaitu pengendalian pada nafsu lawwamah. Inilah sesungguhnya puasa bagi orang-orang yang khusus (istimewa) yang telah mencapai derajat shalihin dan muttaqin.

Puasa pada tingkatan ini juga dapat diartikan sebagai tahapanTak hal l i (pembersihan diri) dari sifat-sifat yang buruk pada diri seorang hamba. Karena hakikat makna Takhalli ialah penyucian jiwa seorang salik hingga mencapai kebersihan yang hakiki. Maka dengan puasa pada tingkatan khusus ini, seseorang dapat mencapai pengosongan diri dari segala macam sifat yang madzmumah. Kemudian dilanjutkanTahal l i (menghiasi) dengan sifat-sifat yangmahmudah (terpuji).

Sifat terpuji pada diri seseorang, dapat ditemui dalam pelaksanaan ibadah yang istiqamah dan kehidupan yang jauh dari maksiat lahir maupun batin. Sebagaimana anggota tubuh yang telah dikendalikan dengan puasa, sehingga semua yang dilakukan oleh anggota tubuh itu selalu terpuji.

3.    Puasa yang lebih khusus atau teristimewa (shaumul khushushul khushush).
Yaitu puasa yang lebih khusus atau teristimewa. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah bersih hatinya seperti para nabi dan arifin billah. Di samping beliau melaksanakan puasa pada tingkatan pertama dan kedua, beliau lebih jauh lagi pendalaman pelaksanaan puasanya pada tingkatan hati yang jernih.

Puasa pada tingkatan ini, harus menahan diri dari rasa atau keinginan untuk memiliki sesuatu apa atau siapa pun yang ada di dunia ini. Karena keinginan tersebut dapat menghalangi dirinya dari memandang keelokan Wujud Allah SWT. Karena Puasa pada tingkatan khushushul khusush, jika di dalam hatinya ada sesuatu selain Allah SWT yang dapat melupakan dirinya pada wujud-Nya, maka puasanya dihukumkan batal. Karena itu, ada seorang arifin billah yang menyatakan: ³Andai kata terlintas di dalam hatiku suatu kehendak akan yang lain selainmu karena jiwaku melupakannya, maka hukumkan diriku sebagai murtad.´

Orang-orang yang puasa pada tingkatan ketiga ini, hatinya selalu ingat pada Allah SWT dengan syuhud (memandang dan menyaksikan) semua yang ada di bumi ini, baik lahir maupun batin dikembalikan kepada Allah SWT. Ini sebagai kelanjutan dari Takhalli dan Tahalli sampai jadi dan merasakan Tajalli (tampak).

Tajalli itu merupakan hasil dari tingkatan para salik yang telah berproses dari pengosongan diri dari sifat-sifat madzmumah dan dilanjutkan menghiasinya dengan sifat-sifat mahmudah, kemudian menjadi kelihatan hakikat yang dituju yaitu Allah SWT. Inilah Tajalli orang-orang yang berpuasa pada tingkatan ketiga, yaitu orang yang telah diistimewakan oleh Allah SWT.

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), yaitu) surga ‘And yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya.Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)”. (Taha: 75-76).

Pengertian dan Keutamaan Ramadan


Ramadan dan Syawal merupakan dua nama bulan dari nama bulan-bulan Islam lainnya. Ramadan dan syawal dimuliakan karena keutamaan dalam berbuat amal kebaikan di bulan tersebut. Pada bulan-bulan tersebut diwajibkan puasa sebulan penuh (Ramadan), dan mengeluarkan zakat di akhirnya, yakni menjelang Syawal. Kedua bulan tersebut adalah bulan yang istimewa dan mulia di sisi Allah.

PENGERTIAN DAN KEUTAMAAN RAMADAN
Ramadan Artinya bulan imtihan atau bulan ujian. Bulan Ramadan juga disebut BULAN PUASA karena pada bulan ini diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Bulan Ramadan ialah bulan beribadah, bulan yang disebut dalam al-quran. Allah memilih bulan Ramadan dari bulan-bulan yang dua belas dan menjadikannya bulan yang utama. Allah memilih Ramadan untuk melimpahkan nikmat besar-Nya kepada para hambanya dengan menurunkan Al-quran.

Firman Allah SWT:
Artinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan sembilan permulaan. Al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan bermacam-macam keterangan yang merupakan petunjuk, antara yang benar dan yang batil.” (Al-Baqarah : 185)

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADAN
Bulan Ramadan adalah bulan yang memiliki kesucian dan keistimewaan yang banyak. Di antara keistimewaan- keistimewaan bulan Ramadan ialah :

1.    Bulan yang terpilih untuk melakukan ibadah puasa sebagai tanda kesyukuran kepada Allah atas nikmat-Nya. Firman Allah SWT:
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman telah difardhukan puasa atas kamu sebagai mana telah difardhukan atas umat-umat sebelum kamu, mudah-mudahan kamu (dengan perantaraan puasa itu) memperoleh taqwa.” (Al-Bakarah : 183)

2.    Bulan yang telah dipilih oleh Allah SWT diadakan suatu malan yang sangat tinggi nilainya, iaitu “Malam Lailatul Qadar”
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Ramadan bulan yang penuh berkat. Allah elah menfardhukan atas kamu berpuasa didalamnya. Dibuka didalamnya segala pintu syurga, dikunci didalamnya segala pintu neraka, dan dibelenggu didalamnya segala syaitan. Didalamnya ada satu malan yang lebih baik dari seribu bulan (malam lailatul qadar). Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sesungguhnya tidak diberikan kebajikan kepadanya.” (Riwayat Ahmad, An Nasa’I dan Al Baihaqi dan Abu Hurairah)

3.    Bulan yang dipilih untuk sembahyang terawih di malamnya. Sembahyang terawih adalah sembahyang sunat yang hanya ada di bulan Ramadan. Sepanjang malam bulan Ramadan disunatkan mengerjakan sembahyang terawih secara berjemaah.

4.    Bulan yang dipilih untuk kita memperbanyakkan amal ibadah, seperti membaca al-quran, membanyakkan sedekah, sembahyang sunat dan sebagainya.

5.    Bulan yang berlakunya kemenangan dipihak Rasulullah SAW menawan Kota Makkah. Disaat itu berakhirlah penyembahan Berhala di sisi Kaabah dan Makkah menjadi suci sebagaimana yang Allah SWT kehendaki.

6.    Berlakunya Nuzul Al-quran pada 17 Ramadan yang disambut setiap tahun sebagai memperingati kesempurnaan al-quran. Diturunkan kepada Rasulullah SAW.

7.    Dipelihara daripada dosa.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Sembahyang lima waktu, jumaat ke jumaat, Ramadan ke Ramadan menutupi dosa-dosa yang dilakukan diantara, asal sahaja dijauhi segala dosa besar.” (Riwayat Muslim dan Abu Hurairah)

8.    Dibuka pintu syurga, ditutup pintu neraka. Syaitan dibelenggu. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Pada suatu hari, aku berada di sisi Uqbah bin Farqad sedang dia menceritakan tentang hal Ramadan, maka datanglah kepada kami seorang lelaki dari sahabat Rasul.

Setelah orang itu dilihat oleh Uqbah, dia pun merasa takut lalu berdiam diri. Maka orang itu menceritakan tentang hal Ramadan, katanya: “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata : “Didalam bulan Ramadan dikunci segala pintu neraka, dibuka segala pintu syurga dan dibelenggu segala syaitan.”

Berkata Nabi lagi, “Seorang Malaikat berseru, “Wahai segela orang yang menghendaki kebajikan bergembiralah kamu dan wahai orang yang menghentikan kejahatan tahanlah diri kamu. “Malaikat terus-menerus berseru, sehingga habis bulan Ramadan.” Riwayat Ahmad dan Nasa’i

9.    Mendapat perhatian, keutamaan dan ganjaran dari Allah SWT;
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Rasulullah SAW bersabda, Telah diberikan kepada umatku di bulan Ramadan lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seseorang nabi sebelumku :
·  Dipermulaan bulan Ramadan Allah melihat kepada umatku, barangsiapa Allah lihat kepadanya, nescaya tidak diazabnya selamanya.
·  Bau mulut mereka diwaktu petang hari lebih wangi di sisi Allah dari bau kasturi.
·  Para Malaikat memohon ampunan untuk mereka disetiap hari dan malam.
·  Allah menyuruh kepada syurganya serta berkata kepadanya, “Bersiaplah kamu dan berhiaslah kamu untuk hamba-hamba- Ku. Mereka hampir beristirehat dari kepayahan dunia, menuju ke negeri-Ku dan kemuliaan-Ku.
·  Pada akhir malam bulan Ramadan, Allah mengampuni semua dosa mereka. Seorang lelaki dari Sahabat bertanya : “Apa itu Lailatul Qadar ya Rasulullah?” nabi menjawab : “Apakah engkau tidak melihat kepada pekerja-pekerja yang bekerja. Apabila mereka telah selesai dari pekerjaan mereka, nescaya disempurnakanlah upah-upah mereka.” (Riwayat Ahmad, Al Bazzar, Al Baihaqi dari Jabir)
·  Sejarah berlakunya perang Badar Al Qubra. Kemenangan pihak Islam menjadi penentu sejarah kegemilangan Islam.

10. Sejarah berlakunya penaklukan Kota Makkah oleh Rasulullah dan tamatnya agama berhala. Bulan yang berlakunya kemenangan dipihak Rasulullah SAW menawan Kota Makkah. Disaat itu berakhirlah penyembahan berhala di sisi kaabah dan Makkah menjadi suci sebagaimana yang Allah SWT kehendaki.

11. Setiap solat terawih mempunyai kelebihannya yang tersendiri. Bulan yang dipilih untuk solat terawih pada malamnya. Solat terawih adalah sembahyang sunat yang hanya ada di bulan Ramadan. Sepanjang malam di bulan Ramadan disunatkan mengerjakan solat terawih secara berjemaah.

12. Hanya di bulan ini dituntut sebanyak-banyak ibadah berbanding di bulan-bulan yang lain. Bulan yang dipilih untuk kita membanyakkan amal ibadah seperti membaca al quran, membanyakkan solat sunat dan sebagainya. Bulan ini segala doa dan apa-apa yang diminta insyallah dimakbulkan Tuhan.

13. Para syaitan dirantai atau dibelenggu moga dengan itu maksiat berkurangan.
14. Pada malam permulaan Ramadan nabi bersabda : “Pada permulaan malam Ramadan, para syaitan dan jin yang jahat dibelenggu serta pintu-pintu neraka dikunci, tidak ada satu pun yang terbuka. Pintu-pintu syurga dibuka dan tidak ada satu pun yang dikunci. Pada setiap malam ada yang memanggil : “Hai orang-orang yang mendambakan kebajikan menghadaplah, dan hai orang-orang yang mendambakan keburukan, menyingkirlah. Allah pada setiap malamnya akan membahaskan ramai orang dari neraka.”