Download Film, MP3, Sofware, Ebook, Gratis, Cerita Lucu,/h1>

SELAMAT DATANG DI BLOG SEDERHANA INI. BLOG INI TEMPAT CURHAT YANG KREATIF, IMAJINATIF, SEKALIGUS INOVATIF. FUNGSINYA BISA MACAM-MACAM. TERUTAMA SEKALI ADALAH SEBAGAI MEDIA UNTUK BELAJAR. BELAJAR MENULIS, BELAJAR UNTUK PEKA. PEKA PADA DIRI DAN SEKITAR KITA. PUNYA KRITIK DAN SARAN, SILAKAN KIRIM VIA EMAIL KE: banggaheriyanto@gmail.com

Tuesday, 28 June 2011

Betawi versus Medan

Kenaikan harga BBM membuat masyarakat kelabakan. Semua kebutuhan hidup mahal. Sembako, pakaian, angkot, semua mahal. Namun, dalam kondisi sulit seperti itu untungnya masih ada hal-hal lucu yang membikin kita tetap bersemangat hidup.

Suatu hari, seorang ibu asli Betawi naik mikrolet 01 jurusan Kampung Melayu Pasar Senin. Ia naik dari depan kampus Universitas Indonesia Salemba dan hendak menghadiri satu acara di kantor PBNU, Jl. Kramat Raya. Kira-kira jaraknya kurang dari 1 km.

Sampainya di depan Gedung PBNU si ibu tadi bilang, “Kiri Bang!” dan langsung turun dan membayar sopir yang ternyata orang Padang itu dengan uang seribu rupiah.

Si sopir kaget dan langsung mengembalikan uang seribuan tadi. “Bah, cuma seribu Bu?!” kata Si Abang Medan (dengan logat Padang, é).

“Lhah.. Baru naek Bang!” kata ibu ngotot.
“Iya tahu. Ini BBM naek. Seribu lima ratus Bu, lima ratus lagi…” kata Si abang memelas.

“Udah segitu aje cukup. Baru naek dari kampus tong!” Ibu tadi semakin jengkel.

Si Abang tetap tidak mau kalah. Meski lalu lintas keluar-masuk PBNU macet karena mikrolet tadi berhenti tepat di gerbang gedung PBNU, Si Abang tadi tak peduli. Maklum para supir pada mengeluh, untuk membeli bensin saja tak cukup apalagi membeli kebutuhan anak-istri menjelang lebaran. Tiba-tiba ia mendapatkan ide baru. Ia tersenyum dan langsung menyerang ibu tadi dengan kata-kata baru.

“Bah… Bu… kurang Bu, lima ratus lagi… ini lebaran Bu,” katanya memelas lagi.
“Lebaran kek sempitan kek emang gue pikirin…,”  kata si ibu masa bodoh dan langsung beranjak masuk ke gedung PBNU.

Perbedaan bahasa kadang membuat banyak kesalahfahaman. Namun bagi mereka yang murah senyum dan senang humor, perbedaan dan kesalahfahaman justru menjadi sedekah. Cerita tadi diperoleh dari Gus Dur, entah dari mana dia dapatnya.

0 comments :

Post a Comment