Sudah sejak awal dekade ini, manusia di berbagai penjuru dunia sedang menghadapi isu kritis yang sama, yakni pemanasan global (global warming). Tidak hanya berdampak pada kondisi geologis Bumi, pemanasan global juga sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan manusia, terutama pada bagian-bagian terluar tubuh, kulit misalnya.
Pemanasan global adalah kondisi di mana suhu rata-rata Bumi meningkat secara drastis. Ini terjadi karena Bumi menyerap lebih banyak panas (energi) matahari daripada yang dilepaskannya ke atmosfir. Ada beberapa penyebab yang membuat Bumi demikian, di antaranya adalah aktivitas manusia yang semakin liar tak terkendali, terutama berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil demi kepentingan dunia industri dan konsumsi.
Aktivitas itu utamanya terpusat pada penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara, dan sejenisnya) secara massif yang memicu peningkatan emisi karbon. Kegiatan itu terkonsentrasi di negara-negara industri terbesar di dunia, seperti Amerika Serikat, China, Inggris, Rusia, Kanada, dan Jepang.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization–WHO) memperingatkan bahwa pemanasan global akan banyak berdampak bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Perubahan temperatur dan curah hujan yang ditimbulkan memberikan kesempatan berbagai macam virus dan bakteri penyakit tumbuh lebih luas.
Yang merasakan secara langsung perubahan temperatur Bumi adalah bagian-bagian tubuh manusia terluar, kulit misalnya. Jangan terlalu kaget, misalnya, jika hari-hari ini kita kerap merasakan udara yang lebih panas dari biasanya. Resiko dari panas yang tidak biasanya itu adalah kanker kulit. Itu adalah risiko terjauh. Sementara risiko yang paling “kecil” adalah penuaan dini kulit manusia karena 90 persen penyebabnya adalah sinar matahari.
Pada kondisi normal saja (sebelum wacana pemanasan global ramai dibicarakan) kita kerap diberitahu untuk menghindari terpaan sinar matahari langsung dan berlebih, terutama di waktu-waktu tertentu, seperti di antara pukul sepuluh pagi hingga pukul tiga petang. Kini, panas sudah bertambah akibat pemanasan global dengan radiasi bebasnya. Maka, kita harus lebih telaten lagi menjaga kesehatan kulit.
Dr. Diana Yusuf Komala, seorang terapis dan kosmetologis dari Klinik Perawatan Muka dan Badan La Diana, Tanjung Duren, Jakarta Barat, mengatakan, “Melihat kondisi lingkungan saat ini, bagian tubuh terluar, seperti kulit, harus lebih dijaga dan dirawat. Untuk mencegah penuaan dini atau lebih parahnya kanker kulit, sebaiknya menghindari terpaan sinar matahari secara langsung di jam-jam tertentu, dan melakukan perawatan secara intensif.”
Seorang dokter dari sebuah klinik perawatan kulit ternama, Dr. Evalona Manurung, mengungkapkan, “Terlalu banyak terkena langsung paparan sinar matahari bisa membuat kulit manusia mengalami penuaan dini,” ujarnya seperti dikutip dari situs okezone.com.
Lebih jauh Dr Eva mengungkapkan bahwa radiasi bebas akibat pemanasan global juga bisa menyebabkan kulit kering, kusam, keriput, dan terjadinya pigmentasi kulit yang tidak rata. Pigmentasi kulit adalah sebuah keadaan di mana warna kulit menjadi lebih hitam dari area di sekitarnya, atau dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan flek.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa ternyata ada hubungan yang sangat jelas antara pemanasan global dengan kesehatan manusia, terutama kesehatan kulit. Yang paling sederhana untuk dilakukan adalah menjaga kulit dari terpaan sinar matahari langsung, merawat kulit secara internal dengan mengonsumsi vitamin, dan mulai memperlakukannya sebagai aset yang sangat berharga. (BHY)

0 comments :
Post a Comment