Download Film, MP3, Sofware, Ebook, Gratis, Cerita Lucu,/h1>

SELAMAT DATANG DI BLOG SEDERHANA INI. BLOG INI TEMPAT CURHAT YANG KREATIF, IMAJINATIF, SEKALIGUS INOVATIF. FUNGSINYA BISA MACAM-MACAM. TERUTAMA SEKALI ADALAH SEBAGAI MEDIA UNTUK BELAJAR. BELAJAR MENULIS, BELAJAR UNTUK PEKA. PEKA PADA DIRI DAN SEKITAR KITA. PUNYA KRITIK DAN SARAN, SILAKAN KIRIM VIA EMAIL KE: banggaheriyanto@gmail.com

Monday, 26 May 2014

Siaran TV Berbayar dan Eksklusivitas Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) ibarat sebuah anak kunci yang membuka pintu pemahaman manusia terhadap banyak hal dalam kehidupan. Dari generasi ke generasi pengetahuan disampaikan melalui berbagai macam media.

Salah satu media itu di era ini adalah melalui siaran TV berbayar. Jika TV gratisan menyediakan siaran banyak hal yang juga dapat menambah pengetahuan, maka TV berbayar menyediakan informasi yang membuat pengetahuan kita sedikit lebih eksklusif.

Lantas, apa manfaat pengetahuan eksklusif itu? Apakah dapat membuat kita lebih pintar dari orang lain yang tidak memiliki akses TV berbayar? Atau sebaliknya, membuat rasa ingin tahu (curiosity) kita perlahan menjadi tumpul karena semua informasi telah tersedia?

Dalam dunia bisnis, eksklusivitas artinya peluang usaha. Sementara dalam ilmu komunikasi massa, eksklusivitas bermakna kesempatan untuk menerapkan teori Agenda Setting yang diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw pada 1972. Jika pengertian dari dua dunia itu digabungkan, maka berlakulah idiom "siapa menguasai informasi, ia akan menggenggam dunia".

Bagaimana dengan pemirsa (viewers) TV berbayar? Apakah juga berlaku asumsi di atas? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung si pemirsa sendiri. Apakah ia memilih tetap menjadi pemirsa saja, atau ia akan aktif, dalam arti memanfaatkan pengetahuan eksklusivitas pengetahuan yang ia miliki menjadi bentuk yang berbeda guna menghasilkan profit-profit tertentu?

Berdasarkan data BPS, dari 240 juta penduduk Indonesia, ada 40 juta rumah tangga yang memiliki televisi. Dari angka 40 juta itu, sampai April 2014 hanya 8 persen (3 juta) yang berlangganan pay TV. Angka yang masih minim, tetapi juga berarti potensi pasar yang besar. Artinya, eksklusivitas merupakan kata kunci yang penting di industri siaran TV berbayar kita, juga industri media pada umumnya. (BHY)

Utak-Atik Politik...

9 April sampai 9 Juli 2014 mungkin merupakan rentang waktu paling ramai di panggung politik negeri ini. Ada banyak cerita yang dipentaskan. Ada drama yang bahagia, ada juga yang mengharu-biru.

Yuk kita mulai dari cerita yang bahagia. Tapi sebelumnya, perlu ditegaskan bahwa tulisan ini tak memihak faksi politik manapun. Biarlah keberpihakan politik saya hanya tampak di bilik suara. Saya menulis sebagai rakyat biasa yang hak-hak politik dan kebebasan menyuarakan pendapatnya dilindungi oleh Konstitusi.

Cerita bahagianya adalah pileg 9 April kemarin berlalu aman-aman saja, meski banyak catatan di sana-sini. Tidak ada konflik horizontal yang cukup berarti, meski sekitar 792 berkas perkara keberatan hasil pileg menumpuk di Mahkamah Konstitusi (MK).

Selebihnya adalah cerita yang mengundang tawa, membuat kening berkerut, dan hati miris. Semuanya dipertontonkan secara terbuka ke ruang keluarga kita, melalui beberapa media massa yang independensinya layak dipertanyakan kembali.

Sementara cerita mirisnya adalah imbas dari mengerucutnya bursa capres-cawapres yang hanya menjadi dua poros: poros Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta.

Proses pengerucutannya sungguh berliku. Seperti menelusuri jalur labirin yang ujungnya tak mudah diterka. Kalau dalam bahasa pengamat politik dikenal dengan istilah "proses yang sangat cair".

Selama proses itu kita saksikan semua tokoh politik saling berbalas kunjungan. Komunikasi menjadi sangat intens. Dan, ide Aristoteles tentang 'zoon politicon' menjadi aktual kembali. Cuma beda motif, barangkali.

Dan rangkaian pemilu 2014 ini tampaknya belum juga menjadi momentum kebangkitan bangsa seperti yang dicita-citakan sebelumnya. Tokoh-tokoh muda progresif, berkarakter, cerdas dan visioner seperti Dahlan Iskan, Mahfud MD, Anies Baswedan, Gita Wiryawan, harus tenggelam di pusaran pekat politik bangsa. Alasanya tak lain dan tak bukan adalah jegalan pragmatisme.

Cerita mirisnya adalah betapa naifnya kita sebagai warga negara biasa yang mendambakan pemimpin-pemimpin andal dan jujur, tetapi di saat yang sama para "aktor" itu hanya mempertontonkan pragmatisme belaka. Dan cita-cita tentang kesejahteraan bangsa hanya indah di atas kertas saja.  (BHR)

Thursday, 1 May 2014

Tugas KKPI TKJ dan TSM

Untuk semua siswa-siswi kelas X SMK Al-Fathimiyah, jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) dan Teknik Sepeda Motor (TSM) tapel 2013-2014. Mohon diperhatikan dan dibaca dengan seksama uraian tugas mapel KKPI di bawah ini. Harap dikerjakan sesuai dengan instruksi dan ketentuan sebagai bagian dari media pembelajaran online, sekaligus praktik keterampilan secara mandiri.

Jenis Tugas: Membuat Makalah
Tema (pilih salah satu)
TKJ:
  • Jenis dan Fungsi Hardware-Software Komputer
  • Macam-macam Sistem Operasi Komputer

TSM:
  • Perbedaan Sepeda Motor Matic dengan Manual 
  • Sistem Kelistrikan Sepeda Motor
 Ketentuan:
  • Kerjakan dengan program Microsoft Office Word 2007
  • Size kertas A4, dengan margin Left: 3cm, Top: 3cm, Right: 2cm, Bottom: 2cm.
  • Minimal 10 halaman termasuk halaman judul, dijilid rapi, warna cover biru tua (TKJ) dan merah tua (TSM).
  • Halaman judul seluruhnya rata tengah.
  • Jenis font halaman judul silakan kreasikan sendiri, yang penting dapat terbaca dengan jelas.
  • Jenis font isi makalah VERDANA, size 9
  • Rata paragraf Justify, line spacing: 1.15pt.
  • File diberi nama dengan format: TSKKPI_NAMA_JURUSAN contoh: TSKKPI_bunga_TKJ.doc
  • Simpan dalam format MS. Office 97-2003 atau RTF (rich text format)
  • Kirim file tersebut ke email: banggaheriyanto@gmail.com, dengan subject email: TUGAS KKPI
  • Ini adalah tugas individu. Masing-masing siswa harus membuat karya tulisnya sendiri.
  • Karya tulis original mendapat nilai tambahan.
  • Printout dan softcopy diterima paling lambat Kamis, 12 Juni 2014.
Selamat berkarya.

Contoh makalah silakan download di sini.

Wednesday, 16 April 2014

Aroma Tebu di Mana-mana

Sekian waktu berlalu, ada satu hal yang tak banyak berubah di lingkungan ponpes Tebuireng, yaitu selalu tercium aroma gula atau tebu di setiap waktu. Aroma bakal bertambah pekat di pagi dan sore hari.

Terciumnya aroma gula atau tebu itu bisa dimaklumi karena memang dekat ponpes Tebuireng, 200 meter ke arah timur, ada pabrik gula yang dalam ejaan lama ditulis “Tjoekir”. Baiklah, kita merujuk pada ejaan baru saja ya: Cukir.

Juga, persis di depan ponpes legendaris ini ada sungai kecil. Pada waktu-waktu tertentu airnya mengeluarkan asap seperti air hangat. Warna airnya bening pekat, mirip air gula pemanis es kelapa muda. Barangkali, air itulah sumber aroma gula yang merupakan limbah PG Cukir.

Pabrik gula Cukir adalah peninggalan Belanda. Didirikan pada 1884, dan langsung membuat masyarakat sekitar seolah semut yang mengerubungi gula, yang pada gilirannya menjebak mereka menjadi hedonis.

Dalam web pribadinya (gusmus.net), Gus Mus (panggilan akrab KH. A. Mustafa Bisri) menulis bahwa PG Cukir jualah yang menginspirasi Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’arie mendirikan pondok pesantren yang kini bernama Tebuireng. Tujuannya antara lain demi mengangkat harkat dan martabat para buruh PG Cukir yang kala itu terkungkung kemiskinan akibat kapitalisme yang dipraktikkan Belanda.

Bisa disebut, Hadratussyaikh Hasyim Asy’arie telah menggelorakan semangat anti-kapitalisme, liberalisme, dan neo-liberalisme, sejak dini. Inilah cermin kemandirian bangsa yang sesungguhnya.

Ada cerita menarik seputar pabrik gula Cukir. Para santri Tebuireng pasti hafal cerita ini. Suatu ketika di masa Hadratussyaikh Kyai Hasyim Asyari masih hidup, cerobong asap pabrik gula Cukir mengepulkan asap dalam jumlah yang banyak sehingga mengganggu masyarakat sekitar, termasuk para santri Tebuireng kala itu.

Bukan hanya asap, ternyata cerobong itupun mengeluarkan semacam abu sisa bakaran tebu yang membumbung ke atas. Jika hinggap di kepala, tangan atau pipi, maka akan menyisakan bekas hitam seperti arang yang ringan. Jika jatuh di halaman atau pekarangan, otomatis akan membuat kotor.

Kejadian ini berlangsung lama dan membuat resah santri dan warga sekitar. Hingga akhirnya keresahan itu terdengar oleh Hadratussyaikh. Beliau juga prihatin. Akhirnya, suatu hari beliau berdiri di halaman ponpes Tebuireng. Mengarahkan pandangan ke cerobong asap pabrik gula Cukir, dan membuka udeng-udeng (sorban yang diikatkan di kepala) beliau, kemudian melemparkannya ke cerobong asap pabrik.

Jarak antara pekarangan ponpes Tebuireng ke cerobong asap sekitar seratus sampai seratus lima puluhan meter. Tetapi menurut cerita, udeng-udeng itu sampai di sana dan membuat mesin pabrik gula Cukir berhenti beroperasi dalam waktu yang lama. Alhasil santri dan warga pun tak lagi terganggu oleh asap ataupun debu.

Entah cerita ini fakta atau hanya mitos belaka, sedikitpun tidak mengurangi takzim saya kepada Hadratussyaikh. Beliau adalah sumber inspirasi semua santri.

Wangi tebu, air kali yang selalu berasap, debu sisa bakaran tebu, inilah di antara hal-hal yang tak banyak berubah dari Tebuireng dan lingkungan di sekitarnya. Hal-hal yang mungkin tidak akan pernah saya jumpai di tempat lain.

Finally There

Salah satu destinasi wisata ziarah bersama para kyai dari PCNU Karawang tahun 2013 kemarin adalah–tentu saja–menziarahi makam Gus Dur. Bagi kami kaum Nahdliyyin, Gus Dur tokoh istimewa. Bahkan di tengah perjalanan sering terlontar gurauan bahwa, “Jumlah Walisongo bukan sembilan lagi, tetapi sepuluh ditambah Gus Dur”.

Ya. Gus Dur memang istimewa. Namun, tulisan ini bukan membahas Gus Dur. Tak layak rasanya saya si hina-dina ini menulis sesuatu tentang beliau. Saya cuma mau cerita sedikit tentang Tebuireng dulu yang saya tahu, dan yang kini saya alami.

Ketika tahu bahwa menziarahi makam Gus Dur adalah tujuan berikutnya, wah… hati saya girang bukan kepalang. Hampir dua puluh tahun lamanya sejak terakhir saya melangkahkan kaki di gerbang depan Tebuireng yang legendaris itu.

Gerbang yang dulu selalu kami lewati tiap pagi berangkat sekolah. Malam harinya, tiap usai jam belajar, ribuan dari kami melewati gerbang yang sama. Memburu gerai-gerai makanan yang berjejer di pinggir jalan. Ah… sungguh sebuah suasana yang kami rela melakukan apa saja untuk dapat kembali mengulangnya.

Saya akan mengulas satu per satu suasana itu melalui tulisan berantai edisi Wisata Ziarah ini. Mencoba mereka-reka cerita melalui penggalan-penggalan rasa yang tersisa. Barangkali ia dapat membangkitkan kenangan itu secara utuh. Barangkali juga tidak. Tapi setidaknya saya sudah mencoba.

Kami tiba di Kota Jombang sekitar pukul 02.00 dinihari, setelah sore hari sebelumnya menziarahi makam syaikhuna Kyai Kholil di Bangkalan, Madura. Dari pusat Kota Jombang, butuh waktu kurang-lebih tiga puluh menit untuk tiba di lokasi Pondok Pesantren Tebuireng.

Pemandangan Kota Jombang dinihari itu belum dapat membangkitkan memori saya. Di sisi kanan-kiri jalan yang kami lalui hanya tampak gelap. Namun, begitu tiba di persimpangan jalur selatan Jombang-Malang, persis di sisi timur stasiun kereta api Jombang, perlahan-lahan kenangan itu hadir.

Stasiun itulah yang dulu menjadi tempat tiba dan berangkat sebagian besar kami para santri dari luar kota. Banyak cerita tersendiri tentang stasiun ini, dan nostalgia perjalanan di kereta api tentunya. Insya Allah saya akan mengulasnya dalam tulisan khusus.

Penggalan kenangan itu mulai utuh ketika kami masuk ke wilayah kecamatan Diwek. Ada beberapa bagiannya yang masih saya kenal. Terutama beberapa perkebunan tebu, lapangan sepak bola, dan sungai kecil dan parit di sisi kanan jalan.

Dua ratus meter menjelang Ponpes Tebuireng, hanya tersisa sedikit penanda yang mampu saya kenali. Sisanya adalah bangunan dan penanda-penanda baru. Satu kata yang keluar dari mulut saya ketika kami akhirnya benar-benar tiba di sana: subhanallah… sudah banyak perubahan. Dan Gus Dur memberi andil yang tidak sedikit dalam perubahan itu. (bersambung ke tulisan ‘Aroma Tebu di Mana-mana’)

Tuesday, 15 April 2014

Koalisi Parpol

Tahun 2014 ini ada dua hajatan besar bangsa Indonesia. Yang pertama, 9 April ada pemilu anggota legislatif DPR, DPD, dan DPRD kota dan provinsi. Kedua, 9 Juli ada pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden.

Pemilu 9 April sudah lewat. Perolehan suara masing-masing partai politik juga sudah dapat ditebak, bahkan ketika proses menyoblos masih berlangsung. Ada banyak lembaga survei melakukan hitung cepat (quick count).

Ketika hasil sudah diketahui, strategi berikutnya adalah membangun koalisi. Kenapa koalisi diperlukan?

Pasal 9 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden menyebutkan, pasangan calon diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah nasional dalam pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan pemilu presiden dan wapres.

Karena tak ada satupun parpol yang memperoleh suara mayoritas, maka mereka harus berkoalisi dengan partai lain supaya dapat mengusung jagoannya maju di pilpres 9 Juli mendatang.

Nah, peta koalisi parpol itulah yang sekarang ramai dibicarakan. Skenario yang beredar, saat ini ada tiga poros utama koalisi yang masing-masing poros dipimpin oleh 3 besar parpol peraih suara terbanyak, yakni PDIP, Golkar, dan Gerindra. Ketiganya sudah punya "jago" untuk maju di pilpres.

PDIP sudah menyusuri peta itu. Kunjungan Jokowi ke Surya Paloh, Jusuf Kalla, dan Muhaimin Iskandar adalah hal yang menyiratkan demikian. Ia sedang menjajaki peluang koalisi sekaligus juga mencari figur cawapres ideal.

Sang mantan walikota Solo itu terlihat pede. Maklumlah, PDIP dan Jokowi hari ini adalah gula-gula politik yang sangat menggiurkan.

Apakah langkah Jokowi juga diikuti oleh Golkar dan Gerindra? Tampaknya belum. Golkar masih kurang pede dengan capresnya yang terbukti memble di survei elektabilitas.

"Lumpur" masih menjadi pemberat langkah ARB untuk melenggang ke Istana. Bahkan politisi senior Akbar Tanjung yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Golkar, sampai menyatakan dirinya siap menjadi cawapres di luar partai Golkar. Akbar kemudian dituding menggembosi partai beringin itu.

Untuk mengajak partai lain berkoalisi, "gula" Golkar tidak semanis PDIP. Partai tengah pun akan berpikir dua kali bila harus gabung dengan partai yang tokoh capresnya minim elektabilitas.

Berbeda dengan Golkar yang dilanda kisruh, Gerindra tampaknya sedang berhitung ekstra teliti. Masuk sebagai 3 besar pun sebetulnya sudah merupakan prestasi tersendiri buat partai berlambang garuda ini. Namun, skandal perjanjian Batu Tulis meninggalkan luka cukup dalam, maka setiap langkah harus matang diperhitungkan.

Nah, kunci sebenarnya ada di partai tengah yang perolehan suaranya di bawah 10 persen. Ada PPP, Hanura, Nasdem, PKS, PAN, PKB, dan Demokrat. Mampukah mereka memainkan peran dalam peta koalisi.

Ada PPP yang sejak sebelum pemilu telah merapat ke Gerindra. Ada PKB yang menawarkan cawapres Mahfud MD, Rhoma Irama, dam Jusuf Kalla ke PDIP juga Gerindra.

PAN bisa jadi kuda hitam dengan cawapres Hatta Rajasa. Yang paling nelangsa adalah Partai Demokrat dengan drama konvensi capresnya. Antiklimaks sudah menanti drama melankolis nan tragis itu.

Katakanlah nanti akan ada tiga pasangan capres-cawapres: (1) Jokowi-Jusuf Kalla, (2) Prabowo-Mahfud MD, dan (3) ARB-Pramono Edi, pemenangnya sudah dapat diterka.

Seperti masa SBY dulu, pemenang pilpres 2014 inipun akan dimenangkan oleh dia yang punya citra merakyat, sederhana, dan dikenal jujur. (Bhy)

Saturday, 12 April 2014

Caleg Stres? Mmhh...

Pemilu anggota legislatif memang sudah berlalu. Tetapi hiruk-pikuknya masih bergema. Menyisakan banyak cerita. Ada kisah bahagia, sedih, lucu, bahkan ironi. Termasuk cerita tentang caleg yang stres karena perolehan suaranya jauh dari yang diangankan.

Tibalah kini waktunya berhitung. Semua tunduk pada hukum ekonomi paling dasar: untung-rugi. Berapa modal yang dikeluarkan, berapa untung yang didapatkan. Masalah idealisme simpan saja di kantung belakang. Idealisme takkan berjalan tanpa kekuasaan.

Paradigma itulah yang tampaknya dipegang erat para caleg gagal dan stres. Sudah keluar banyak modal, ternyata eh ternyata....

Kelakuan caleg gagal itupun membuat dahi berkerut. Ada caleg yang meminta kembali kompor gas yang pernah ia bagikan saat kampanye. Ada yang menggulung karpet yang sudah terpasang di sebuah majlis ta'lim. Ada yang meneror warga, meminta uang "serangan fajar" dikembalikan. Ah....

Jika ingat saat kampanye dulu, sang caleg sangat dielu-elukan. Datang dengan jumawa, disertai berlapis-lapis pengawal, dan penjilat yang menghembuskan angin harapan. Seolah dia adalah manusia pilihan. Di rekening bank ada tersimpan sekian ratus juta, cukuplah katanya. Untuk cetak spanduk, sticker, kaos, mobilisasi massa, konsumsi, bendera, dan sebagainya. Kalau tidak cukup juga, masih ada harta warisan. Atau pinjam kerabat, atau siapa saja yang mau jadi sponsor.

Yang namanya sponsor, tidak ada yang tidak mengharapkan imbalan. There is no free lunch. Kalau kau terpilih, apa yang akan kau berikan padaku. Proyek apa? Bantuan apa? Atau jatah jabatan apa di lingkungan pemerintahan? Sang sponsor akan menagih, cepat atau lambat. Terpilih atau tidak terpilih.

Para caleg gagal itu tampaknya tidak berpikir panjang. Atau sudah berpikir panjang, tetapi dipendek-pendekkan. Dibuat sederhana. Ditambah lagi ada angin surga yang terus dihembuskan para penggembira, yang berpikir pragmatis bahwa pemilu adalah proyek. Cuma karena silsilah keluarga yang tenar di sebuah kecamatan, ia pun berani ambil risiko. Duh.... coba uang ratusan juta itu dipakai untuk membuat LSM yang memberdayakan warga dengan kegiatan-kegiatan kreatif dan produktif, alangkah eloknya.

Sang sponsor kini menagih. Harta warisan ludes. Mereka yang dulu mengawal, adalah mereka yang pertama menjauh. Mereka yang dulu meniupkan angin surga, tiba-tiba menguap tanpa bekas. Kalau sudah begitu, apa arti sticker, kaos, spanduk, dan uang yang dulu ia bagi-bagikan. Wuuus... seperti disulap. Hilang tanpa jejak. (*)









Sunday, 23 March 2014

Tentang Saya....

Nama lengkap saya Bangga Heriyanto, S. Sos. Lahir di Tangerang, 17 April 1978. Saya anak ke-5 dari enam bersaudara. Buah cinta pasangan yang kini berbahagia di usia senja, H. Hanafi dan Hj. Ami.
Saya sudah menikah dan dikaruniai satu orang anak perempuan. Nama istri saya Ade Sa’diyah, S. Sos. Nama putri semata wayang saya Cecilia Rahmi Asbhy Puteri. Mereka berdua ibarat mata air yang tak pernah kering dalam kolam kehidupan saya.

Aktivitas saya saat ini adalah sebagai tenaga pendidik di sebuah sekolah menengah di Karawang, Jawa Barat; jurnalis freelance di beberapa media online, salah satunya adalah di lingkarberita.net; konsultan media sebuah pondok pesantren modern di Purwakata, Jawa Barat, dan sedang merintis usaha di industri kreatif, mulai dari percetakan digital, asesoris dan suvenir, jasa pembuatan audio-video, desain dan hosting website.

Saya alumni SDN Karang Anyar I, Tangerang; SMP A Wahid Hasyim, Tebuireng Jombang, Jawa Timur, MA Daruttafsir, Bogor, Jawa Barat; dan UIN SGD Bandung, Fakultas Dakwah, Jurusan Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Ilmu Jurnalistik. (*)


Wednesday, 13 June 2012

E-mail dan Dunia Bisnis

Salah satu buah manis dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah proses komunikasi dan pertukaran informasi yang tak lagi mengenal batas ruang dan waktu. Jarak bukan halangan utama ketika kita, misalnya, hendak mengirimkan sejumlah salinan dokumen ke luar kota sementara waktu yang tersedia amatlah singkat.

Salinan dokumen itu dapat Anda kirimkan melalu sebuah surat elektronik (kita lazim menyebutnya dengan e-mail–akronim dari electronic mail; ada juga yang menyebutnya dengan surel--surat elektronik) yang bisa sampai ke alamat tujuan bahkan dalam hitungan beberapa detik saja. Daya jelajahnya pun luar biasa; menembus batas-batas geografis, selama–tentu saja–tersedia koneksi internet yang memadai.

Di samping daya jelajah yang luar biasa itu, e-mail juga mampu membuat banyak hal menjadi lebih efisien. Sebuah dokumen yang biasanya terdiri dari berlembar-lembar kertas mampu diringkas menjadi beberapa buah file yang dilampirkan. Proses pengiriman dan penerimaan e-mail tidak memerlukan prosedur yang berbelit-belit: harus tanda tangan ini, tanda tangan itu. Jika sebuah surat konvensional yang dikirimkan, misalnya ke antar kota, membutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk sampai ke alamat tujuan, maka dalam waktu yang sama kita dapat mengirim dan menerima e-mail dalam jumlah yang berlipat kali lebih banyak. Singkatnya, e-mail sungguh sebuah penemuan yang sangat bermanfaat.

Kita harus berterima kasih pada penemu e-mail. Dari beberapa referensi diketahui bahwa penemu e-mail adalah Raymond Samuel Tomlison, warga New York, Amerika Serikat (AS). Ray sekolah di Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, New York. Ia pernah ikut program co-op dengan IBM. Tahun 1963, Ray meraih gelar sarjana teknik listrik dari institut tersebut. Ia kemudian melanjutkan studi ke MIT (Massachusetts Institute of Technology), sebuah kampus yang sangat masyhur dalam hal perkembangan teknologi kontemporer.

Ray lulus dari MIT pada tahun 1965 dengan gelar master teknik elektro. Pada tahun 1967 Ray bergabung dengan perusahaan teknologi BBN Technologies yang mendapat tugas mengembangkan sistem operasi Tenex untuk ARPANET (Advanced Research Projects Agency Network), sebuah divisi Departemen Pertahanan AS untuk pengembangan internet.

Di sinilah Ray mengembangkan dua program komputer yang pada intinya adalah untuk memungkinkan komputer-komputer dalam jaringan ARPANET dapat berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Ray mengembangkan program CPYNET untuk transfer file antar komputer. Di saat yang sama, Ray juga mengembangkan program SNDMSG (send message).

Ia kemudian menggabungkan keduanya, maka terciptalah e-mail pertama dengan isi pesan yang cukup unik, “QWERTYUIOP”. Menurut beberapa referensi hal itu terjadi di tahun 1971. Demikianlah sedikit cerita tentang sejarah e-mail, sebuah teknologi yang sampai hari ini tidak pernah kekurangan pengguna, malah bertambah dan terus bertambah dengan berbagai inovasi di dalamnya. (*)